Rabu, 12 Juni 2013


SASIRANGAN: Kain Khas Kalimantan Selatan
Oleh : Sarkani

Indonesia memiliki keragaman dan keunikan yang tiada duanya. Hal tersebut tertuang dalam karya yang sudah diakui oleh masyarakat luas. Diantaranya bahkan sudah diakui dunia Internasional sebagai warisan budaya atau World Heritage. Salah satunya adalah karya budaya yang penuh dengan nilai artistik yakni Batik.
Selama ini batik memang sangat lekat dengan budaya suku Jawa. Padahal di Indonesia sendiri kain batik tidak hanya berasal dari tanah Jawa. Masing-masing memiliki keunikan dan keindahan serta ciri tersendiri. Salah satunya adalah batik sasirangan yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berbeda dengan batik Jawa yang motifnya terbagi-bagi berdasarkan kelas sosial si pemakai. Sejak dahulu batik sasirangan ini dipakai oleh beragam golongan dan kelas sosial masyarakat Banjarmasin.
Secara etimologis istilah Sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. "Sa" artinya satu dan "sirang" artinya jelujur. Ini berarti "sasirangan" artinya dibuat menjadi satu jelujur. Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warm berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warna berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara social budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).
Kata Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti menjelujur yang berkaitan dengan cara pembuatan batik tersebut. Batik Sasirangan adalah kain adat suku Banjar Kalimantan Selatan yang dibuat dengan  teknik tusuk jelujur, diikat benang, gelang karet atau tali rafia, dan kemudian dicelup kedalam air hangat yang diberi pewarna. Pewarna yang digunakan sebagian dari bahan pewarna alam, seprti kulit kayu ulin, jahe, air kulit pisang dan daun pandan.
 
Secara historis Sasirangan, yang antara lain juga dimuat dalam Hikayat Banjar, sekitar abad XII sampai abad ke XIV, kain Sasirangan yang pertama adalah dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa yang kala itu disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning. Kala itu, kain Langgundi merupakan kain yang digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga kerajaan Negara Dipa.
Kain Sasirangan waktu itu boleh dikatakan berfungsi sama dengan zaman sekarang, di mana setiap warga Kerajaan bebas dan berhak untuk memakainya. Sampai pada suatu saat, Patih Lambung Mangkurat sedang bertapa menggunakan lanting untuk mencari seorang raja bagi pemerintahan kerajaan Negara Dipa sesuai dengan wasiat ayahnya, Empu Jatmika yang tidak memperbolehkan diri dan keturunannya untuk menjadi raja lantara mereka bukan berasal dari tutus raja. Ketika sedang bertapa, Patih Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang menanyakan maksudnya dan diapun menjelaskan maksud pertapaannya tersebut adalah untuk mencari seorang raja di kerajaanya. Suara perempuan itupun mengatakan bahwa raja yang sedang dicari oleh Patih Lambung Mangkurat itu adalah dirinya, namun perempuan itu mengatakan dia hanya akan menampkkan diri jika Patih Lambung Mangkurat memenuhi permintaannya. Perempuan itu meminta Patih Lambung Mangkurat untuk membuatkannya sebuah istana yang megah yang dibangun oleh 40 orang perjaka dan sehelai kain Langgundi yang ditenun oleh 40 orang perawan, yang keduanya itu harus selesai dalam waktu satu hari. Sang Patih pun menyetujuinya dan langsung melaksanakannya.
Setelah permintaan dipenuhi, perempuan itu menampakkan diri keluar dari dalam air dengan cantiknya berpakaian kain Langgundi. Perempuan itu disebut oleh warga kerajaan Negara Dipa dengan sebutan Putri Junjung Buih, karena muncul dari dalam air yang beriak/berbuih. Adapun kain yang dipakainya disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
         Konon, sejak peristiwa itu warga kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi menggunakan kain Langgundi/Sasirangan karena takut kuwalat terhadap Putri Junjung Buih. Hal ini mengakibatkan banyak pengrajin kain Langgundi yang tidak lagi memproduksi kain tersebut. Sungguhpun demikian, tidak semuanya berhenti membuat kain sasirangan. Masih ada beberapa pengrajin yang tetap membuatnya, namun tidak lagi dijadikan sebagai pakaian sehari-hari melainkan untuk pengobatan bagi penyakit yang bersifat magis. Jika dilihat dari legenda ini, ternyata asal-usul kain sasirangan tidaklah sakral dan berbau magis. Artinya, ia bersifat profan dan tidak mengenal pantangan atau hal-hal sejenisnya.
Kenapa kemudian sasirangan menjadi sakral? Tampak dari legenda yang ada bahwa keyakinan itu dibuat-buat dan dihubung-hubungkan dengan dunia leluhur. Padahal, jika dibiarkan sebagaimana asal-usulnya, tidaklah ada bukti yang menampik profanitasnya. Akibatnya kemudian justru fatal, ketika kepercayaan terhadap kain sasirangan menjadi semacam itu, maka produksi kain pada skala lokal menjadi menurun drastis dan sesuatu yang tidak rasional (magis) menjadi rasional lantaran fakta-fakta sembuhnya pasien penyakit kulit setelah memakai kain sasirangan terkumpul dan mengalahkan fakta-fakta ketidaksembuhannya. Tampaknya itu saja, dan tidak lebih dari itu.
Memang, menurut keyakinan umum masyarakat Banjar tempo dulu, banyak penyakit yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus. Kain Langgundi/Sasirangan pun merupakan suatu media untuk penyembuhannya. Biasanya penyakit yang dapat disembuhkan olehnya adalah penyakit pingitan, yang secara tradisional dipahami sebagai penyakit yang berasal dari ulah para leluhur yang tinggal di alam roh. Dalam kurun waktu tertentu akan ada anak, cucu, buyut, intah, ataupun yang lain akan terkena penyakit pingitan ini dan untuk penyembuhannya mereka harus mengenakan kain Langgundi. Sebagai media penyembuhan, kain Langgundi bisa digunakan sebagai sarung, kemben, selendang, atau juga ikat kepala yang disebut laung bagi pria.
 
Fungsi Sasirangan, Pada zaman Kerajaan Banjar, batik Sasirangan digunakan sebagai ikat kepala atau “laung”, ikat pinggang untuk kaum lelaki dan selendang atau kemben untuk kaum perempuan. Bahkan kain Sasirangan dahulu kala juga dipakai untuk upacara adat dan alat penyembuhan orang sakit. Ketika masih bernama kain langgundi, kain sasirangan difungsikan sebagai kain untuk busana semua lapisan masyarakat di Kerajaan Negara Dipa, bahkan mungkin sejak zaman keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebelum ditaklukkan oleh Empu Jatmika pada tahun 1355. Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika itu (sebelum tahun 1355) merujuk kepada fungsi umum sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani seluruh warga negara.
Setelah Putri Junjung Buih, kemudian Pangeran Surianata, dan anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya berkuasa di Kerajaan Negara Dipa, kain langgundi hanya boleh dikenakan sebagai busana kebesaran para bangsawan kerajaaan. Rakyat jelata tidak berani mengenakannya sebagai busana harian karena, takut terkena tulah. Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika, itu (sesudah tahun 1335) merujuk kepada fungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani bagi para bangsawan kerajaan saja.
Fauzi (1993), memperkirakan sejak abad ke 14-15 kain sasirangan berubah menjadi kain yang dikeramatkan dan kain Pamintaan, yakni kain yang hanya dibuat berdasarkan permintaan anak, cucu, buyut, intah piat para bangsawan pengidap penyakit pingitan. Konon, diyakini tidak ada obat lain yang mujarab bagi para pengidap penyakit pingitan ini selain dari pada mengenakan kain sasirangan di kepala (ikat kepala, selendang), di perut (bebat), atau bahkan menjadikannya sebagai selimut fidur (sarong).
          Motif Sasirangan, Corak dan warna kain Langgundi sangatlah beragam, karena setiap jenis penyakit pingitan memerlukan corak dan warna kain Langgundi tertentu juga. Inilah kiranya asal-usul motif sasirangan, dan konon sejak digunakan menjadi media pengobatan itulah maka kain Langgundi lebih dikenal dengan sebutan kain Sasirangan yang semakin kaya dengan motif-motifnya. Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak
menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), dan kulat karikit (jamur kecil). Ada juga motif gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang(garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan(jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putrid menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi). Motif-motif tradisional itu kini dihidupkan kembali dengan selera populer. Motif sarigading kini dibuat lebih halus dan bahkan telah diberi hiasan garis emas (prada).

 
 
Warna Sasirangan, Dahulu kala kain sasirangan diberi warna dengan zat pewarna yang dibuat dari bahan-bahan yang bersifat alami, yakni dibuat dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan atau sengaja ditanam di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan itu sendiri.
Ada 6 warna utama kain sasirangan yang dibuat dari zat pewarna alami dimaksud, yakni :
1.         Kuning, bahan pembuatnya adalah kunyit atau temulawak
2.           Merah, bahan pembuatnya adalah gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba (sonokeling, pen)
3.         Hijau, bahan pembuatnya adalah daun pudak atau jahe
4.         Hitam, bahan pembuatnya adalah kabuau atau uar
5.           Ungu, bahan pembuatnya adalah biji buah gandaria (bahasa Banjar Ramania, pen)
6.         Coklat, bahan pembuatnya adalah uar atau kulit buah rambutan
Supaya warnanya menjadi lebih tua, lebih muda, dan supaya tahan lama (tidak mudah pudar), bahan pewarna di atas kemudian dicampur dengan rempah-rempah lain seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, atau terusi.
Arti Warna, Warna utama dalam sasirangan bukan hanya sekedar warna dengan tujuan memperindah dan mempercantik tampilan sasirangan itu sendiri, namun di balik itu ada makna dan arti simbolik yang tersirat dari warna yang dibuat.
Ada beberapa arti warna dalam sasirangan itu, diantaranya adalah :
1.           Kain sasirangan warna kuning merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit kuning (bahasa Banjar kana wisa)
2.           Kain sasirangan warna merah merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit kepala, dan sulit tidur (imsonia)
3.        Kain sasirangan warna hijau merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit lumpuh (stroke)
 
.        Kain sasirangan warna hitam merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal
5.        Kain sasirangan warna ungu merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit perut (diare, disentri, dan kolera)
6.         Kain sasirangan warna coklat merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit tekanan jiwa (stress).

Sumber :
 Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (http://ughieeborneo.blogspot.com)
Andari Widyastuti (http://andaric.blogspot.com)
http://underwearsasirangan.blogdetik.com

Posted by MYTULISAN On 06.09 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Free Music Online
    Free Music Online

    free music at divine-music.info

    Blogroll

    About