Jumat, 24 Desember 2010

Karakteristik IPS
I.                     PENDAHULUAN
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dalam ilmu kewarganegaraan telah disinggung bahwasannya ketidakmampuan manusia hidup sendiri dan manusia saling berkelopok sehingga dibentuk suatu masyarakat. Dalam masyarakat sendiri tak lepas dari hubungan sosial, bahkan dalam suatu pendidikan telah ada sosial studies. Dimana para anak didik dibekali ilmu sosial untuk masa depannya dalam bermasyarakat.
Ilmu sosial yang tak lain adalah ilmu kemasyarakatan selalu bersifat teknis yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni. Dalam arti lain pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk keperluan apa saja sehingga ia tidak bersifat etis atau tidak terkait pada dimensi politis. Objek penelaah ilmu-ilmu sosial relative kompleks. Sebagai obyek observasi, perilaku masyarakat dan individu tidak dapat begitu saja diprediksi. Maka dari itu, banyak para ahli mengatakan bahwa ilmu sosial tidak dapat menjadi ilmu yang sepenuhnya seperti ilmu alam yang selalu bertambah pesat. Karena ilmu-ilmu sosial mempelajari tentang tigkah laku manusia yang sangat sulit untuk diseragamkan.

II. RUMUSAN MASALAH
Dalam pembahasan kali ini ada beberapa rumusan masalah yang akan kita ungkap bersama, diantaranya:
1. Pengertian pendidikan IPS
2. Hakekat pendidikan IPS
3. Karakteristik pendidikan IPS

III. PEMBAHASAN
Dalam sebuah ilmu tak akan dapat dipisahkan sebuah pengertian yang mengantarkan seseorang pada gerbang pemahaman. Jika kita dengar sekilas ilmu sosial adalah ilmu yang sangat kental dengan manusia, masyarakat dan juga tatanan negara. Maka, dalam pembahasan kali ini kita sampaikan.
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN IPS
Istilah ilmu pengetahuan sosial disingkat IPS seringkali saling bertukar makna dengan istilah pendidikan IPS. Jika kita dengar sekilas, kedua istilah tersebut memang belum dipahami oleh semua civitas academia, dikarenakan terbatasnya literature yang menjelaskan kedua istilah itu. Selain iti kemungkinan lain karena kurangnya forum yang membahas kedua istilah tersebut. Dalam pembahasan kali ini kit acoba mengungkap tentang pengertian IPS.
Pengertian IPS diIndonesia mulai sejak tahun 1970-an sebagai hasil komunitas akademik dan secara formal mulai digunakan dalam sistem pendidikan nasinal dalam kurikulum1975. dalam kurikulum pendidikan nasional IPS merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada jenjang sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah. Pelajaran IPS merupakan integrasi dari beberapa pelajaran Sejarah, Geografi, Ekonomi, serta pelajaran lainnya yang berisikan tentang ilmu sosial.
Dapat dikatakan bahwa ilmu IPS lahir dari agama yang melahirkan filsafat, kemudian filsafat terbagi menjadi tiga bagian yaitu ilmu alam, ilmu social, humanis (humaniora), ketiganya mengarah pada studi social (social studies).

Istilah IPS merupakan istilah yang sejajar dengan istilah IPA. Menurut Prof. Nu’man Sumantri, istilah ini adalah penegasan dan akibat dari istilah IPS-IPA saja agar dapat dibedakan dengan pendidikan pada tingkat Universitas. Selain itu istilah IPS belum dikenal baik sebagai sub disipin ilmu. Maka, dalam pustaka lain yag diunakan yaitu social studies, social education, studies education, dll. Istilah-istilah tersebut digunakan menunjuk pada sistem lingkungan yang baik alam maupun manusia dan bagaiman sistem itu berinteraksi dalam keidupan yang beragam.sedangkan dalam pengertian ilmu ips sendiri yaitu sesuai dengan sebutannya sebagai ilmu, tekanannya pada keilmuan yang berkenaan dengan masyarakat atau kehidupan sosial. Berbicara tentang ilmu sosial berkenaan dengan norma, yang mana ilmu sosial adalah semua bidang yang berkenaan dengan kehidupan manusia dalam konteks sosialnya. Seperti halnya yang kita jumpai pada sekitar seperti alam, bahwasannya manusia dalam kehidupannya meliputi aspek-aspek yang cukup luas. Diantaranya:
a) Aspek antarhubungan manusia dalam kelompok
b) Aspek kejiwaan
c) Aspek kebutuhan materi
d) Aspek norma, peraturan dan hukum
e) Aspek pemerintahan dan Negara
f) Aspek kebudayaan
g) Aspek kesejahteraan
h) Aspek komunikasi
i) Aspek kebijaksanaan dan kesejahteraan sosial
j) Aspek manusia dengan hubungan alam, dll.
Peserta didik mampu memahami dan mengenali islah tersebut terlebih dapat menerapkan dalam kehidupan masyarakat. Istilah IPS dikenalkan sejak jenjang dasar, diharapkan dapat dikembangkan pada jenjang atas atau academia.
Dalam paham lain dikatakan pada modul awal bahwa pendidik IPS dasar tidak mengajarkan disiplin ilmu-ilmu sosial, melainkan mengajarkan esensi dalam ilmu untuk menjadi subjek didik menjadi warga Negara yang baik.

B. HAKEKAT PENDIDIKAN IPS
Berdasarkan pada falsafah negara tersebut, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
Membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.
Telah dituliskan bahwa pendidikan IPS itu sendiri memiliki tujuan yang kongkrit yaitu mencetak manusia yang pancasila dalam artian manusia yang memiliki jiwa pancasila, yang mana pancasila merupakan dasar Negara kita. Maka dari itu ilmu sosial tersebut mempelajari sifat manusia yang selalu dapat diperkirakan namun, sulit untuk diseragamkan. Selain demikian IPS merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tatanan masyarakat dan juga yang ada dalam sekitar tatanan sosial.
Dengan pertimbangan semakin kompleksnya prmasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara maka diperkenalkan IPS pada tahun 1970-an sebagai displin ilmu. Selaku disiplin ilmu, Somantri (2001) memberikan devinisi sebagai pendidikan disiplin ilmu sebagai berikut:
Pendidikan disiplin imu adalah suatu batang tubuh disiplin ilmu yang menyeleksi konsep , generalisasi dan teori dari struktur disipin ilmu universitas dan disiplin ilmu pendidikan yang diorganisasikan dan disajikan ilmiah untuk tujuan pendidikan.
Sebagai disiplin ilmu sudah seyogyanya ilmu pengetahuan sosial memiliki sebuah landasan, landasan IPS sebagai disiplin ilmu meliputi: landasan Filosofis, Ideologis, Sosilogis, Antropologis, Kemanusiaan, Politis, Psikologis, dan Religius.
Landasan Filosofis, memberikan gagasan pemikiran mendasar yang digunakan untuk menentukan apa obyek kajian atau kajian pokok IPS sebagai disiplin ilmu,
Landasan Ideologis, memberikan gagasan mendasar untuk memberi pertimbangan dan menjawab pertanyaan.
Landasan Sosilogis, memberikan gagasan mendasar untuk menentukan cita-cita, kebutuhan, kepentingan, kekuatan, aspirasi, serta pola kehidupan kedepan.
Landasan Antropologis, memberikan gagasan mendasar pola, sistem dan struktur pendidikan disiplin ilmu sehingga relevan dengan pola.
Landasan kemanusiaan, memberikan gagasan-gagasan mendasar untuk menentukan karakteristik ideal manusia sebagai sasaran pendidikan.
Landasan Politis, memberikan gagasan-gagasan mendasar untuk menentukanarah dan garis kebijakan dalam politik pendidikan dari IPS.
Landasan Psikologis, memberikan sistem gagasan-gagasan mendasar untuk menentukan cara-cara membangun struktur tubuh disiplin pengetahuan yang baik.
Landasan Religius, memberikan sistem gagasan-gagasan mendasar tentang nilai-nilai, norma, etika, dan moral yang menjadi jiwa yang melandasi keseluruhan bangunan IPS.

C. KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS
Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.
1. Materi IPS
Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
a) Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
b) Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
c) Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
d) Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
e) Sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.
Dari lima pokok materi diatas telah mencakup semua yang ada pada sekitar kita. Dalam kelima point tersebut juga telah mencakup semua aspek sosial juga perkembangan ilmu sosial yang mempelajari aspek kehidupan manusia yang selalu berubah-ubah. Tak hanya demikian, dalam pembelajaran IPS juga meliputii geografis yang menjadi kediaman masyarakat itu sendiri.

2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserhasilan bersekolah adalah sebagai berikut.
1) Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
2) Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3) Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian-peristiwa, benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang luas dan tersebar di sekitar lingkungnnya.
b. Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
c. Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif, belajar, dan berbuat
d. Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting / bermakna
e. Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Dan juga dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan memecahkan masalah.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.
1. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a) Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b) Suka memuji diri sendiri
c) Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d) Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e) Suka meremehkan orang lain
2. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.
Berbicara tentang karakteristik IPS, ada yang mengatakan bahwasannnya karakteristik IPS meliputi:
1. Rasional
Manusia sebagai makluk sosial kemudian dihadapkan pada beberapa disiplin ilmu sosial tentu saja dapat realisasi, relevansi, dan fungsi yang signifikan. Dimensi ruang dengan segala fenomenanya sangat relevan menjadi obyek kajian Geografi.

2. Karakteristik mata pelajaran IPS
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan matapelajaran lainnya, tidak terkecuali mata pelajaran IPS sendiri memiliki karakteristik antara lain seperti berikut:
IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial antara lain: Sosiologi, Geografi, Ekonomi, dan Sejarah. Mata pelajaran IPS juga terdiri atas beberapa konsep, prinsip dan tema yang berkenaan dengan hakekat kehidupan manusia sebagai mahluk sosial(homo socious).
Dalam penyampaian pembelajaran IPS ini, seorang guru harus pandai membawa anak didiknya dalam mencapai pemahaman. Dalam hal tersebut dapat diambil inisiatif menjadikan belajar menyenangkan seperti:
1. Dengan cara selingan permainan
2. Observasi
3. Melihat realita yang ada.
Dengan demikian anak akan merasa senang dan juga tertantang untuk lebih tahu jauh tentang materi IPS yang tak jauh dari kehidupannya.

IV. KESIMPULAN
Dalam pmbelajaran IPS ataupun pengenalan IPS telah sejak pendidikan dasar. Dikarenakan tujuan pendidikan IPS itu sendiri yaitu mencetak manusia pancasila, selain itu IPS sendiri merupakan disiplin ilmu yang memiliki beberapa landasan yang dapat mengantarkanya pada tujuan umumnya menjadikan manusia pancasila. Selain itu perhatian ilmu sosial sendiri mengarah pada kehidupan sehari-hari yang mengakibatkan para ilmuan mengatakan bahwa ilmu IPS tidak dapat dikatakan ilmu kongkrit seperti ilmu pengetahuan alam, sebab ilmu sosial itu sendiri mempelajari tentang tatanan dan sifat manusia yang selalu berubah dan sulit untuk diseragamkan.


V. PENUTUP
Demikianlah uraian yang dapat kita sampaikan dalam pertemuan yang semoga membawa berkah. Amien… atas kekurangan yang kami miiki kami mohon kritik saran yang dapat membangun kita untuk maju semua.



DAFTAR PUSTAKA

Sapriya, Pendidikan IPS, Bandung: Lab. PKN UPI, 2008
Sardiyo, Materi Pokok Pendidikan IPS di-SD, Jakarta: Universitas Terbuka, 2008
Sapriya, Konsep Dasar IPS, Bandung: UPI press, 2006
http://uangtabungan.blogspot.com/2009/10/makalah-konsep-pendidikan-ips-dan.html
http://silabus IPS. Html.
Posted by MYTULISAN On 16.39 No comments READ FULL POST

IPTEK  DALAM  PEMBELAJARAN IPS


          Amanat Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen keempat pasal 31 ayat (5) menyatakan bahwa pemerintah memajukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban umat manusia. Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor: 7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2004 – 2009, Bab 22, bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Iptek menyangkut berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpotensi memberikan dukungan besar bagi kesejahteraan bangsa, keamanan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pelestarian budaya bangsa dan taraf hidup manusia.
            Kemajuan iptek yang sangat pesat dan bersifat universal merupakan peluang bagi pembangunan, yang melibatkan berbagai disiplin ilmu secara integral pembangunan iptek diperlukan dalam bidang ilmu seperti ilmu sosial budaya, politik, ekonomi, sosiologi, ilmu geologi, ilmu psikologi dan sebagainya. Aspek SDM menjadi faktor pengembangan kemampuan iptek yang paling fundamental, dalam rangka pengembangan iptek. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan anak bangsa.
            Tuntutan melakukan reformasi dalam segala bidang seiring dengan peningkatan kualitas hidup manusia saat ini telah menjadi suatu keharusan untuk diperhatikan dan dipahami bersama oleh segenap komponen bangsa. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi dunia  pendidikan,agar sekarang ini perlunya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi dalam kurikulum pendidikan dan pelaksanaan pemebelajaran di sekolah-sekolah.
            Selanjutnya, berdasarkan tujuan pembangunan dan prioritas pembangunan iptek yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009, dan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas) Iptek 2005-2009,telah ditetapkan pula Agenda Riset Nasional 2006-2007 dengan arah kebijakanPeningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang difokuskan pada enam bidang prioritas yang salah satunya adalah Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
            Era globalisasi sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. gobalisasi mempunyai dampak, positif maupun  negatif bagi kehidupan manusia. Tanpa mengesampingkan dampak-dampak negatif yang mungkin timbul, kita melihat globalisasi bukan sebagai ancaman, tapi lebih sebagai tantangan dan peluang yang dapat kita manfaatkan untuk lebih mendorong kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya saing bangsa. Dengan memanfaatkan potensi yang ada pada globalisasi.
            Dalam mengahadapi serbuan informasi yang tidak mengenal batas wilayah ini, diperlukan upaya membekali peserta didik  dengan bekal ilmu pengetahuan. Dari mana dan dengan cara bagaimana pengetahuan ini diperoleh. Disini nampak korelasi yang sangat baik antara ilmu pengetahuan, teknologi dan pendidikan. Dasar penguasaan  ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pendidikan yang dimulai sejak dini, dari tingkat SD sampai mahasiswa.


Ilmu pengatahuan sosial diberikan sebagai bekal yang bisa dijadikan potensi atau alat untuk menseleksi produk-produk globalisasi di berbagai aspek kehidupan ; sosial,budaya, politik, ekonomi, agama serta teknologi. Ilmu pengetahuan sosial diberikan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik  akan dampak negatif globalisasi sekaligus  mempersiapkan diri untuk bersaing dalam tataran global. Karena dengan kondisi sosial-budaya serta kenyataan geografis kita, dapat dikatakan bahwa Indonesia pada  dasarnya adalah sebuah negeri yang ditakdirkan terbuka.
Inilah mungkin tantangan bagi kita, khususnya institusi pendidikan, baik itu kurikulum, tenaga pendidik, peserta didik dan lingkungan masyarakat, terkhusus lagi guru-guru  yang mengajar mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial untuk menjawab serbuan informasi dan teknologi. Sehingga timbul pertanyaan apakah ilmu pengetahuan sosial seperti yang diberikan saat ini memberikan bekal yang mampu menangkis dan menjadi modal untuk menimbulkan semangat bersaing. Kenyataan yang ada sekarang ini ditemui sebagian  besar masyarakat yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang. Dorongan  arus masuk budaya dan teknologi menghasilkan masyarakat dengan gaya hidup konsumtif. Apakah ini disebabkan oleh pendidikan ilmu pengetahuan sosial yang  kurang memadai, kurang tepat atau pemakaian teori-teori sosial asing.
Oleh karena itu, Apabila pendidikan ilmu pengetahuan sosial ini dikaitkan dengan salah satu prioritas  pembangunan iptek,   yakni teknologi informasi dan komunikasi, maka proses belajar  dan mengajar ilmu pengetahuan sosial akan mendapatkan hasil yang maksimal  dimana teknologi ini bisa mengakselerasi penyebaran informasi keseluruh sekolah dari berbagai tempat dibumi nusantara.

            Ada beberapa faktor yang dapat menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga nantinya diharapkan eksistensi iptek dapat dieplemtasikan kedalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial, yaitu :
1.    Kurikulum Pendidikan
Agar iptek lebih dikenal di dalam dunia pendidikan maka sudah sepantasnyalah pemerintah membuat suatu kebijaksanaan yang Alhamdulillah sudah direspon oleh mendiknas dengan dengan munculnya KTSP sebagai model kurikulum baru yang memuat salah satu mata pelajaran, yaitu TIK. Tujuan adalah untuk membawa anak didik kita kearah pengetahuan, pengenalan dan mampu mengoperasionalkan peralatan-peralatan yang berteknologi canggih, misalnya PC dan Laptop serta LCD.

2.    Pendidik
Seorang guru atau pendidik merupakan salah satu pilar tegaknya pembangunan suatu bangsa juga diharapkan jangan ketinggalan akan kemajuan iptek (istilahnya gaptek). Guru sebagai ujung tombak harus mampu seminimal mungkin mengetahui  dan menguasai tentang ICT dan globalisasi sebagai dampak dari iptek.

3.    Proses Kegiatan Belajar Mengajar
Di dalam proses KBM, hendaknya  setiap mata pelajaran  semampu dan semaksimal mungkin agar dapat mengenalkan dasar-dasar  ICT, Penggunaan multi media dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial seperti penyampaian fakta perlu disampaikan pula bukti-bukti yang memperkuat fakta tersebut dengan menggunakan media belajar berbasis ICT dengan menampilkan slide, film dan media presentasi. Penggunaan multi media sangat efektif karena peserta didik akan langsung secara visual  belajar. Selain itu juga mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial perlu ditumbuhkan budaya riset, budaya turun kelapangan melihat secara nyata permasalahan-permasalahan sosial  yang ada, sehingga sensitif terhadap pengaruh luar yang berpotensi untuk merusak bangsa.

            Dengan adanya paradigma baru tentang pembelajaran ilmu pengetahuan sosial   dimana murid lebih dirangsang  untuk belajar mengamati sendiri, sistem pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dapat   diubah menjadi learning based bukan lagi teaching based seperti yang selama ini  dilakukan. Dari sini bisa dikembangkan sistem e-Learning berbasis web yang  merupakan salah satu aplikasi teknologi informasi bagi pendidikan yang mampu  memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya bagi peserta didik  tanpa   adanya batasan ruang dan waktu sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung tanpa    adanya kendala seperti metode pembelajaran konvensional.








TUGAS
PENERAPAN IPTEK DALAM PEMBLEJARAN IPS
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Landasan Pendidikan IPS
Yang Dibimbing Oleh
Bapak Prof.DR.Herry Porda
                     
                      


Di Susun Oleh :
Sarkani
Agung
Muhammad Reza
Tutung Nurdiyana
Sigit Ruswinarsih
Yusnina syafe’i


PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN IPS
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
                                                        2010


               
Posted by MYTULISAN On 16.37 No comments READ FULL POST
Alasan Guru Takut Lakukan PTK

Dewasa ini banyak dijumpai guru yang belum melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di dalam proses pembelajarannya. Mengapa?
Alasan utama yang menyebabkan guru takut melakukan PTK:

Kurang memahami profesi

Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, sehingga hendaknya mereka menyadari ini. Guru harus dapat memahami peran dan fungsinya di sekolah, karena guru sekarang bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmu dengan baik, tetapi juga mampu digugu dan ditiru untuk memberi tauladan yang tidak hanya sebatas ucapan, tapi juga tindakan.

Profesi guru adalah profesi yang bukan hanya mulia di mata manusia, tetapi juga di mata Tuhan. Karena itu guru harus dapat mengajar dan mendidik dengan hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5 S dalam kesehariannya, yaitu Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar.

Malas membaca buku dan malas menulis


Masih banyak guru yang malas membaca, padahal dari membaca itulah akan terbuka wawasan luas. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali waktu untuk membaca. Ini nyata, dan terjadi di sekolah kita.

Bukan hanya di sekolah, di rumah pun guru malas membaca. Guru harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa.

Guru yang rajin membaca, otaknya ibarat mesin pencari google di internet. Bila ada siswa yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para siswanya dengan cepat dan benar.

Guru yang terbiasa membaca, maka akan terbiasa menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau.

Kurang sensitif terhadap waktu dan terjebak rutinitas


Guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik tidak akan banyak meraih prestasi dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang disia-siakan, sehingga guru harus sensitif terhadap waktu. Ia harus selalu terjaga dari sesuatu yang kurang bermanfaat.

Guru juga harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. Jangan sampai terjebak rutinitasnya, yang justru tidak mengantarkan dia menjadi guru dan tidak dapat diteladani anak didiknya.

Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja, misalnya, membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, di dalam blog internet, dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru yang kurang berkualitas.

Kurang memahami PTK

Banyak guru kurang memahami penelitian tindakan kelas atau PTK. Guru menganggap PTK itu sulit. Padahal, PTK itu tidak sesulit yang dibayangkan, karena PTK dilakukan dari keseharian mereka mengajar.

Tidak ada yang sulit. Guru hanya perlu merenung sedikit dari proses pembelajarannya, mencatat masalah-masalah yang timbul, dan mencoba mencari solusinya. Ajaklah teman sejawat agar proses observasi dan refleksinya tidak terlalu subyektif.

PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

(Penulis: Wijaya Kusumah/Guru TIK SMP Labschool, Jakarta)

Posted by MYTULISAN On 16.35 No comments READ FULL POST
Keberhasilan PTK sangat ditentukan oleh banyak faktor yag saling kait mengait. McNiff, Lomax dan Whitehead (2003) menyatakan ada 10 syarat agar PTK berhasil, yaitu sebagai berikut:

Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkankualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelasdalam melakukan intervensi tersebut.

Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai.

Tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri.

Tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan.

Penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.

Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi.

Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio, riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional.

Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu.

Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik.

Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.
Posted by MYTULISAN On 16.33 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
All-Published

    Blogger news

    Free Music Online
    Free Music Online

    free music at divine-music.info

    Blogroll

    About