Selasa, 07 September 2010



                Kegiatan belajar mengajar pada dasarnya mengandung sejumlah komponen-komponen yang terkait dalam suatu sistem, dimana masing-masing komponen saling melengkapi dan menyempurnakan untuk mencapai suatu tujuan dari pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan peserta didik terlibat langsung dalam sebuah interaksi dengan bahan atau materi pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi tersebut peserta didiklah yang lebih aktif, bukannya guru.
                Peserta didik sebagai sentral dari suatu kegiatan pembelajaran, menuntut sekali keaktifan baik dari segi fisik maupun mental, individual dan kelompok. Oleh karena itu interaksi dikatakan maksimal bila di dalam suatu kegiatan belajar mengajar tercipta komunikasi antara guru dengan semua peserta didik, antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan bahan pelajaran, bahkan peserta dengan dirinya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
                Oleh karena itu, agar keadaan tersebut di atas bisa tercipta maka diperlukan keterampilan guru untuk membuat dan mengatur strategi suatu kegiatan belajar mengajar yang menarik bagi peserta didik dalam menerima suatu materi pembelajaran. Persiapan akan perencanaan suatu strategi dalam pembelajaran sangat penting sekali, terutama komponen pendekatan, model dan metode, walaupun kita sebenarnya tidak meyampingkan komponen yang lain. Namun dalam tulisan ini kita ingin mencoba menjelaskan  apa dan bagaimana pendekatan, model dan metode yang bisa dipakai di dalam kegiatan belajar mengajar.
A.       Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Berdasarkan pemikiran dari Cobern bahwa pembelajaran harus bisa menciptakan semirip mungkin dengan situasi “dunia nyata”. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran  yang menggunakan pendekatan kontekstual.
Pendekatan dengan CTL merupakan konsep yang membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata “kekinian” dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran dengan pendekatan CTL ini merupakan suatu prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna materi pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Asumsi  dari pembelajaran kontekstual adalah :
a.        Belajar yang baik adalah jika peserta didik terlibat secara pribadi dalam pengalaman belajarnya.
b.        Pengetahuan harus ditemukan peserta didik sendiri agar mereka memiliki arti atau dapat membuat pemikiran berbagai prilaku yang mereka pejalari.
c.        Peserta didik harus memiliki komitmen terhadap belajar dalam keadaan paling tinggi dan berusaha secara aktif untuk mencapainya dalam kerangka kerja tertentu.
Ada 3 (tiga) prinsip yang dapat kita lihat di dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual ini : Pertama, saling ketergantungan. Berdasarkan prinsip ini pula maka peserta didik harus bekerjasama menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Bekerjasama akan membantu peserta didik mencapai suatu keberhasilan, dan keberhasilan ini akan dicapai apabila peserta didik menghargai perbedaan kemampuan yang berbeda dan unik, kemudian  dikolaborasikan secara koperatif. Kedua, diferensiasi, dimana peserta didik dapat memahami bahwa perbedaan itu rahmat. Ketiga, pengaturan diri. Prinsip ini mendorong pentingnya peserta didik mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya. Peserta didik menerima tanggungj awab atas keputusan dan perilakunya sendiri, memilih alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi secara kritis.
Kelebihan dari pembelajaran kontekstual ini adalah mendorong peserta didik belajar aktif, berpusat pada keaktifan. Belajar merupakan aktivitas penerapan pengetahuan, bukan menghapal. Peserta didk “acting” dan guru mengarahkan. Selain itu juga bisa mengembangkan pada level kognitif tinggi, karena melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecah suatu permasalahan di pelajaran. Kelebihan lain  adalah selalu memusatkan pada proses dan hasil, sehingga assesmen dan evaluasi memegang peranan penting untuk mengetahui pencapaian standar akademik dan kinerja, yang pada akhirnya penilaian dapat dipergunakan untuk merefleksi guna pembelajaran selanjutnya.
Bagaimana supaya pembelajaran kontekstual tersebut di atas bisa dilaksanakan dengan baik dan lancar, yang tentunya sebelumnya sudah direncanakan. Di sini kita akan menggunakan yang namanya pembelajaran koperatif dengan beberapa pilihan model-model yang dapat disesuaikan dengan kemampuan seorang guru dalam pengetahuan dan pelaksanaannya.
B.       Model Pembelajaran
Pengertian model, menurut Mills ( Agus Suprijono, 2009 : 46)merupakan “bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.” Model merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem.
Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk mengatur materi atau bahan pelajaran bagi guru di kelas. Menurut Arends (Agus Suprijono, 2009 : 46) Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat di definisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan rencana pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar.
Merujuk pemikiran Joyce (Agus Suprijono, 2009 : 46) melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Model Pembelajaran tersebut di atas akan mempunyai arti dan bentuknya  apa bila dilaksanakan dengan Cooperative Learning, yaitu  pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
                                Dimana pendekatan Cooperative Learning dilaksanakan dengan pemikiran sudah dilaksanakankan di Sekolah Menengah Pertama dengan Kurikulum KTSP, ini berdasarkan tuntutan pembelajaran yang mengharuskan keaktifan dan partisifasi siswa dalam pembelajaran, dimana guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator terhadap siswa di dalam proses belajar mengajar.
Pembelajaran Koperative muncul dari konsep bahwa siswa akan akan lebih mudah menemukan dan memahami materi pelajaran yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Jadi, hakikat sosial dalam penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperative.
Pembelajaran Kooperative merupakan sebuah kelompok strategi pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggan and Kauchak,1996 : 279). Pembelajaran ini disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan belajar bersama-sama.
Dalam pembelajaran ini siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa dan sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaborasi untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan ketrampilan berhubungan dengan sesama mereka yang pada dasarnya sangat bermanfaat bagi kehidupan siswa di luar sekolah.
Pembelajaran kooperative mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang khas terhadap keragaman ras, budaya, agama, strata sosial, dan kemampuan (Ibrahim Dkk, 2000 : 9). Pembelajaran ini memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk belajar saling bergantung satu sama lain atas tugas bersama, dan melalui pembelajaran ini juga mereka diajarkan untuk menghargai orang lain, selain itu juga dapat melatih ketrampilan kerjasama dan tanyajawab.
Beberapa variasi model yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran koperative, yaitu :
1.      STAD (Students Teams-Achievement Divisions)
Pembelajaran dengan menggunakan tim siswa kelompok prestasi yang dimunculkan oleh Salvin tahun 1955. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran model STAD adalah, sebagai berikut :
a.    Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
b.   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
c.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
d.   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub   
     bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk
     mendiskusikan sub bab mereka
e.    Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke
     kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka     
     tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
     mendengarkan dengan sungguh-sungguh
f.    Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
g.   Guru memberi evaluasi
h.    Penutup
2.      JIGSAW
Pembelajaran menggunakan tim ahli dimunculkan oleh  ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, (1978). Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a.    Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
b.   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
c.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
d.   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub
     bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk
     mendiskusikan sub bab mereka
e.    Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke
     kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka
     tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
     mendengarkan dengan sungguh-sungguh
f.    Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
g.   Guru memberi evaluasi
h.    Penutup
3.        TPS ( Think Pair and Share) dimunculkan oleh Frank Lyman, 1985
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a.    Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
b.   Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang
     disampaikan guru
c.    Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2
     orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
d.   Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan
     hasil diskusinya
e.    Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada
     pokok permasalahan dan menambah materi yang belum
     diuangkapkan para siswa
f.    Guru memberi kesimpulan
g.   Penutup
4.        NHT (Numbered Heads Together)
Pembelajaran menggunakan kepala bernomor yang dimunculkan oleh Spencer Kagan, 1992. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai beriku:
a.    Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok
     mendapat nomor
b.   Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
     mengerjakannya
c.    Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap
     anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
d.   Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang
     dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e.    Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
     yang lain
f.    Kesimpulan .
C.       Metode Pengajaran
Untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang aktif maka seorang guru perlu sekali menentukan metode pembelajaran yang tepat. Apa itu Metode? Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi kita artikan bahwa metode mengajar adalah cara –cara guru menyajikan bahan atau materi pelajaran kepada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Metode dalam pembelajaran lebih menekankan pada proses belajar peserta didik secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar. Namun setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan yang lain. Tidak ada satu metode pun dianggap bagus untuk segala situasi. Seringkali terjadi pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai metode secara bervariasi ataupun bisa berdiri sendiri.
Untuk melaksanakan proses pembelajaran suatu materi pelajaran perlu dipikirkan metode yang tepat. Ketepatan pemilihan dan penggunaan metode tergantung kepada kesesuaian beberapa faktor, antara lain :
1.        Kesesuaian metode  dengan tujuan pembelajaran.
2.        Kesesuaian metode dengan materi pembelajaran.
3.        Kesesuaian metode dengan kemampuan guru.
4.        Kesesuaian metode dengan kondisi peserta didik.
5.        Kesesuaian metode dengan sumber dan fasilitas tersedia.
6.        Kesesuaian metode dengan kondisi belajar mengajar.
7.        Kesesuaian metode dengan waktu yang tersedia.
8.        Kesesuaian metode dengan tempat belajar.
Ada beberapa macam metode pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seperti :
1.        Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah peserta didik pada waktu dan tempat tertentu. Dengan kata lain metode ini adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dengan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah peserta didik yang pada umumnya bersifat pasif. Metode ini juga disebut juga dengan metode kuliah atau metode pidato.
2.        Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Tujuan dari Metode diskusi ini adalah :
1)       Memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berfikir kritis,  
mengeluarkan pendapatnya, serta menyumbangkan pikiran-pikirannya.
2)       Mengambil suatu jawaban actual atau satu rangkaian jawaban
 yangdidasarkan atas pertimbangan yang saksama.
Macam – macam diskusi yaitu :
1) Diskusi informal
2) Diskusi formal
3) Diskusi panel
4) Diskusi simpusium.
        Kelebihan metode diskusi adalah :
     Suasana kelas sangat hisup sebab anak-anak sepenuhnya mengarahkan
      perhatian dan pikirannya kepada masalah yang di diskusikan
     Dapat mempertinggi prestasi keperibadian individu, seperti semangat
      toleransi, jiwa demokrasi, dan kritis dalam berfikir
     Hasil-hasil diskusi mudah dipahami dan dilaksanakan bersama karena anak-
      anak ikut serta secara aktif dalam pembahasan sampai kepada suatu
      kesimpulan
     Anak-anak diraih mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib dalam suatu
     diskusi sebagai pengalam berharga bagi kehidupan sesungguhnya kelak di
     masyarakat .
Kekurangan metode diskusi adalah :
     Terutama dalam kelompok besar mungkin sekali ada diantara anak yang tidak
      aktif atau ambil bagian sehingga diskusi merupakan kesempatan untuk
      melepaskan diru dari kewajiban dan tanggung jawabnya
     Biasanya guru sulit mnduga arah penyelesain dan hasil diskusi karena waktu
      yang dipergunakan cukup panjang serta beberapa faktor yang lain yang
      mempengaruhi antara lancar dan tidaknya diskusi itu
     Tidak selamanya mudah bagi anak-anak untuk mengatur berfikir sistematis
     dan rapih apalagi secara ilmiah .
Ada beberapa tahapan dalam melaksanakan suatu dsikusi, yaitu :
1.  Persiapan
     Menentukan topik yang akan didiskusikan
     Merumuskan tujuan yang akan dicapai
     Merumuskan masalah yang akan didiskusikan
     Menentukan waktu dan peraturan-peraturan diskusi
2.  Pelaksanaan
     Membuat struktur kelompok (pimpinan, sekretaris, dan anggota)
     Menjelaskan tujuan pembelajaran khusus
     Membagi-bagi tugas dan memberikan pengarahan diskusi
     Memberikan rangsangan dan membentu siswa untuk berpartisipasi
     Kelompok-kelompok membuat hasil diskusinya dan disampaikan dalam
      diskusi antar kelopok
     Hasil diskusi antar kelompok dilaporkan kepada guru atau pimpinan diskusi
      dalan bentuk tertulis .

3.        Metode Demontrasi
Metode ini adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan sesutau kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang disajikan. Tujuan metode ini adalah memperjelas pengertian konsep atau suatu teori.
        Keuntungan metode ini adalah :
1)       Perhatian anak dapat dipusatkan dan titik berat yang dianggap penting
dapat diamati secara tajam
2)       Proses belajar anak akan semakin terarah karena perhatiannya akan lebih
terpusat kepada apa yang didemonstrasikan
3)       Apabila anak terlibat aktif, maka mereka akan memperoleh pengalaman
atau pengetahuan yang melekat pada jiwanya dan ini berguna dalam pengembangan kecakapannya.
4.        Metode Penugasan
Suatu cara mengajar dengan cara memberikan sejumlah tugas yang diberikan guru kepada murid dan adanya pertanggungjawaban terhadap hasilnya.
Tugas tersebut dapat berupa:
v Mempelajari bagian dari suatu teks buku
v Melaksanakan sesuatu yang tujuannya untuk melatih kecakapannya
v Melaksanakan eksperimen
v Mengatasi suatu permasalahan tertentu
v Melaksanakan suatu proyek.
5.        Metode Sosiodrama
Suatu cara mengajar dengan cara pementasan semacam drama atau sandiwara yang diperankan oleh sejumlah siswa dan dengan menggunakan naskah yang telah disiapkan terlebih dahulu.
Tujuan metode ini adalah:
v Melatih keterampilan social
v Menghilangkan perasaan-perasaan malu dan renda diri
v Mendidik dan mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat
v Membiasakan diri untuk sanggup menerima pendapat orang lain.
6.        Metode Latihan
Suatu cara mengajar yang digunakan dengan cara memberikan latihan yang diberikan guru kepada murid agar pengetahuan dan kecakapan terentu dapat menjadi atau dikuasi oleh anak.
Tujuan dari metode ini adalah
v Memberikan umpan balik (feedback) kepada guru untuk memperbaiki proses
      belajar mengajar
v  Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajr masing-masing anak
      didik
v Menempatkan anak didik dalam situasi belajar mengajra yang tepat.
v Anak dapat mempergunakan daya berfikirnya semakin baik
v Pengetahuan anak didik agar semakin bertambah dari berbagai segi
       latihan atau ulangan dapat dilakukan dengan cara :
v      Secara klasikal
v     Secara individu
v     Pencocokan dengan kunci jawaban yang telah disediakan sebelumnya
7.        Metode Kerja Kelompok
Kerja kelompok  itu ada dua macam
1.      Kerja kelompok jangka pendek
        Kelompok ini dapat dilaksanakan dalam kelas dalam waktu yang singkat
       kurang lebih 20 menit.
2.  Kerja kelompok jangka menengah
     Dilaksanakan dalam beberapa hari karena adanya tugas yang cukup memakan
     waktu yang agak panjang.
8.        Metode Proyek
Metode mengajar dengan cara memberikan bermacam-macam permasalahan dan anak didik bersama-sama menghadapi masalah tersebut dan memecahkannya secara bersama-sama dengan mengikuti langkah-langkah secara ilmiah, logis, dan sistemastis.  Metode ini disebut juga dengan metode pengajaran unit. Tujuan metode ini adalah untuk melatih anak didik agar berfikir ilmiah, logis, dan sistematis.

9.        Metode Karyawisata
Metode ini adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek yang bersejarah atau memiliki nilai pengetahuan untuk mempelajari dan menelilti sesuatu.
10.     Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk sejumlah pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi ada pula dari siswa kepada guru.
Kelebihan metode tanya jawab adalah :
v Situasi kelas lebih hidup karena murid aktif berfikir dan menyampaikan buah
      pikirannya melalui jawaban-jawabannya ayas pertanyaan yang diajukan guru
v Sangat positif untk melatih anak agar berani mengemukakan pendapat secara
      lisan dengan berani
v Timbulnya perbedaan pendapat diantara ssesama murid
v Murid yang biasanya segan mencurahkan perhatian atau menjadi lebih
      berhati-hati dan secara sungguh-sungguh mengikuti pelajaran .
Kelemahan metode tanya jawab  di antaranya adalah :
v Apabila terjadi perbedaan pendapat antara murid dengan murid dapat
      menimbulkan perdebatan yang sangit sehingga memakan banyak waktu
      untuk  menyelesaikannya
v Kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan terutama apabila
      jawaban-jawaban
v Memakan waktu yang cukup lama untuk menrangkum bahan-bahan
      pelajaran .
A. Langkah persiapan dalam pelaksanaan Metode Tanya-jawab meliputi :
ž     Menentukan topik
ž     Merumuskan tujuan yang akan didiskusikan
ž     Menyusun pertanyaan-pertanyaan secara tepat sesuai dengan tujuan
              yang akan direalisasikan
ž     Mengidentifikasikan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan siswa


B. Pelaksanaan
               Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran khusus
               Mengkomunikasikan penggunaan metode tanya jawab
               Guru memberikan permasalahan sebagai bahan apersepsi
               Guru mengajukan pertanyaan keseluruh kelas
               Guru harus memikirkan waktu yang cukup untuk memikirkan
              jawabannya secara dapat merumuskan secara sistematis
               Guru mengusahakan agar setiap pertanyaan hanya berisi satu
              masalah saja.

Sumber : di sadur dari buku Metode Pembelajaran
                 Dra.Sumiati dan Asra,M.Ed
                 CV. Wacana Prima
                 Bandung, 2008

                 Di sadur dari buku Strategi belajar Mengajar
                 Prof.Pupuh Fathorrahman dan M. Sobry Sutikon,M.Pd
                 Refika Aditama
                 Bandung, 2007

                  Di sadur dari bahan bacaan lain yang relevan.

















                               






               
Posted by MYTULISAN On 23.23 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Free Music Online
    Free Music Online

    free music at divine-music.info

    Blogroll

    About