Kamis, 02 Februari 2012


A.                Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Menurut Winataputra (2008:40) istilah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) untuk pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo. Menurut laporan hasil seminat tersebut ada tiga istilah yang muncul  dan digunakan secara bertukar-pakai, yakni “ Pengetahuan Sosial, Studi Sosial, dan Ilmu Pengetahuan sosial”, yang diartikan sebagai suatu studi masalah-masalah sosial yang dipilih dan dikembangkan dengan menggunakan pendekatan interdisipliner dan bertujuan agar masalah-masalah sosial itu dapat dipahami peserta didik. Dengan demikian peserta didik akan dapat meghadapi dan memecahkan masalah sosial sehari-hari.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) telah menjadi bagian dari wacana kurikulum sistem pendidikan Indonesia. PIPS merupakan program pendidikan sosial pada jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah yang mencakup mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn); IPS terpadu di sekolah SD dan Paket A Luar Sekolah; IPS terkolerasi di SMP dan Paket B Luar Sekolah yang di dalamnya mencakup materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi; dan IPS terpisah di SMU yang terdiri dari atas mata pelajaran geografi, sejarah, antropologi, sosiologi, ekonomi dan tata Negara.

 Tujuan utama program pendidikan tersebut adalah menyiapkan peserta didik sebagai anggota masyarakat dan warga Negara yang baik dan memberi dasar pengetahuan dalam masing-masing bidangnya untuk kelanjutan pendidikan jenjang di atasnya (Winataputra, 2008:12).
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya
Dalam bidang pengetahuan sosial, ada banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
1. Ilmu Sosial (Sicial Science)
Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah”.
Menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.
Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
2. Studi Sosial (Social Studies).
Perbeda dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18) memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar.
3. Pengetahuan Sosial (IPS)
Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama.

Definisi IPS menurut National Council for Social Studies (NCSS), mendifisikan IPS sebagai berikut: social studies is the integrated study of the science and humanities to promote civic competence. Whitin the school program, socisl studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world.
Pada dasarnya Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan IPS adalah merupakan suatu pendekatan interdsipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Saidiharjo (1996:4) bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik (http://0903386.blogspot.com/2011).
Konsep IPS utnutk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972-1973, yakni dalam Kurikulum Proyek Perintis Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Konsep pendidikan IPS tersebut kemudian memberi  inpirasi terhadap Kurikulum 1975 dan kurikulum selanjutnya.
Bila disimak dari perkembangan pemikiran pendidikan IPS yang terwujud dalam kurikulum sampai dengan sekarang ini, pendidikan IPS di Indonesia mempunyai dua konsep pendidikan IPS, yakni; pertama, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi “citizenship transmission” dalam bentuk mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn) dan Sejarah Nasional; kedua, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi social studies dalam bentuk pendidikan IPS terpisah dari SMU, yang terkonfederasi di SMP, dan yang terintegrasi di SD (Winataputra, 2008:44).
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sekarang ini pendidikan IPS untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama dilaksanakan pembelajaran IPS secara terpadu atau IPS terpadu dengan pendekatan tematik dalam setiap kegiatan pembelajarannya.
Posted by MYTULISAN On 09.05 No comments READ FULL POST

Senin, 17 Oktober 2011

Tugas guru sebagai pengajar adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang mendidik, menilai proses dan hasil pembelajaran yang diperoleh melalui hasil evaluasi.
Dalam melaksanakan proses penilaian, tes merupakan alat ukur yang paling sering digunakan guru untuk mengukur hasil belajar siswa. Dari hasil tes, guru dapat mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Oleh karena itu, agar tes dapat mengukur hasil dengan tepat, maka tes harus dikembangkan dengan benar.
A. Bagaimana Membuat Perencanaan Tes yang Baik
Tes baru akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan yang penting dan mewakili seluruh bahan yang diujikan secara representatif. Pemilihan butir-butir soal dilakukan atas dasar pertimbangan pentingnya konsep, dalil atau teori yang diuji dalam hubungannya dengan peranannya terhadap bidang studi secara keseluruhan.
Untuk memudahkan guru dalam menyusun tes, maka perlu dibuat kisi-kisi soal yang akan menjadi acuan bagi guru dalam menulis butir soal. Kisi-kisi ini memuat beberapa informasi, antara lain cakupan materi yang akan diuji, kompetensi yang akan diuji, tingkat kesukaran soal, dan jumlah butir soal yang dibutuhkan
B. Dasar-dasar Penyusunan Tes
Tes merupakan alat ukur yang paling banyak digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran. Adapun dasar-dasar penyusunan tes adalah sebagai berikut:
1. Tes harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tercantum dalam rencana pembelajaran
2. Tes disusun sedemikian rupa sehingga benar-benar mewakili materi yang telah dipelajari
3. Pertanyaan tes hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan
4. Tes hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri
5. Tes disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut, apakah mengacu pada kelompok ataukah mengacu pada patokan tertentu
6. Tes hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran
C. Bagaimana Menyusun Soal Objektif
Dilihat dari konstruksi, tes objektif tersusun atas pokok soal (stem) yang disertai dengan empat sampai lima pilihan jawaban (option). Diantara empat/lima jawaban tersebut harus terdapat satu jawaban yang benar atau yang paling benar (sebagai kunci) dan tiga jawaban tidak benar (pengecoh). Pokok soal (stem) dapat dirumuskan dalam dua bentuk. Pertama stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tidak selesai, dan yang kedua stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Jika stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tidak selesai, maka akhir kalimat harus diikuti dengan 4 buah titik dan awal dari setiap option harus dimulai dengan huruf kecil tanpa diberi titik pada akhir setiap option. Jika stem dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya maka akhir stem diikuti dengan tanda tanya pada setiap awal option dimulai dengan huruf besar sedangkan pada setiap option diberi tanda titik.
Contoh 1 :
Salah satu tujuan Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 26 – 28 Oktober 1928 adalah untuk ….
A. memperkokoh persatuan dan kesatuan (kunci)
B. mengangkat derajat bangsa Indonesia
C. memilih kader-kader bangsa Pengecoh
D. mempropagandakan cita-cita Indonesia merdeka
Contoh 2
Siapa penemu pesawat telepon pertama ?
A. Faraday
B. Edison pengecoh
C. Markoni
D. Bell (kunci)
Apa yang perlu dilakukan guru sebelum penulisan soal dimulai ?
1. membuat kisi-kisi terlebih dahulu. Agar kisi-kisi yang dibuat menjadi baik, maka kisi-kisi tersebut harus disesuaikan dengan kurikulum bidang studi masing-masing.
2. menyusun kompetensi/TIK dengan memperhatikan 4 komponen yang sedapat mungkin harus dipenuhi, antara lain:
a. Sasaran atau peserta tes (siswa kelas……… SM
P XXX)
b. Tingkah laku yang diharapkan. Perumusan diharapkan mencakup kata kerja operasional
c. Kondisi/Hasil belajar. Yang dimaksud adalah kondisi yang diberikan pada saat tingkah laku siswa diukur bukan pada saat belajar
d. Tingkat keberhasilan (Indikator soal) merupakan standar tingkah laku tertentu yang dapat diterima.
Keempat komponen tersebut sering disingkat dengan ABCD (Audience, Behaviour, condition, dan Degree) Indikator merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik. Artinya apabila serangkaian indikator dalam satu kompetensi dasar sudah tercapai, maka target kompetensi dasar tersebut sudah tercapai.
Jenjang kemampuan ini mengacu kepada jenjang kemampuan berpikir yang dikembangkan oleh Bloom, dkk, yaitu Ingatan (C1), Pemahaman (C2), Penerapan (C3), Analisis (C4), Sintesis (C5), dan Evaluasi (C6).
Tingkat kesukaran ditentukan berdasarkan pada pertimbangan guru sebagai ahli materi (expert judgment). Sebagian besar (50%-60%) butir soal yang akan ditulis diharapkan mempunyai tingkat kesukaran sedang, sisanya mempunyai tingkat kesukaran yang sukar (20%-25%), dan mudah (20%-25%). Tingkat kesukaran dikategorikan sedang jika diperkirakan siswa yang dapat menjawab butir soal tersebut kurang dari 50%. Tingkat kesukaran soal dikategorikan sukar jika dapat dijawab hanya oleh sebagian kecil siswa (25%). Sedangkan tingkat kesukaran soal dikategorikan mudah jika diperkirakan soal tersebut dapat dijawab dengan benar oleh sebagian besar siswa (75%)
3. Setelah membuat kisi-kisi, maka guru harus menulis butir soal yang baik
Beberapa bentuk/ragam soal tes objektif, terdiri dari:
a. melengkapi pilihan
b. hubungan antar hal
c. analisis kasus
d. pilihan berganda, dan
e. membaca diagram gambar.
Prinsip pokok dalam konstruksi butir soal pilihan ganda
1. Saripati permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal (stem).
Inti permasalahan yang akan ditanyakan harus dicantumkan dalam rumusan pokok soal sehingga dengan membaca pokok soal siswa sudah dapat menentukan jawaban sebelum membaca pilihan jawaban. Persyaratan ini tidak berlaku bagi pengembangan butir soal kesusastraan.
Contoh: Propinsi di Sumatra yang merupakan penghasil karet terbesar di Indonesia adalah ….
A. Jambi
B. Bengkulu
C. Sumatera Utara
D Sumatera Barat
2. Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam pilihan.
Peniadaan pengulangan kata berarti menyingkat waktu menulis dan membaca serta menghemat tempat.
Contoh: Garis pada permukaan P.V.T. dimana tekanan, volume, dan temperatur pada keadaan padat, cair, dan uap dalam kesetimbangan disebut garis…
A. Single
B. Double
C. Triple
D Quarrel
3. Hindari rumusan kata yang berlebihan.
Rumusan yang baik adalah yang singkat, padat, jelas, tanpa kata-kata ‘kembang’.
Contoh:
Cahaya kerlap kerlip yang disebabkan oleh ratusan bintang pada galaksi Bima Sakti berasal dari ….
A. Pantulan sinar matahari
B. Pantulan sinar bulan
C. Pantulan planet bumi
D Galaksi itu sendiri
4. Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata atau kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan, bukan di tengah-tengah kalimat.
Contoh: Menurut De Bakey, penyakit penyempitan pembuluh darah disebabkan oleh ….
A. cholesterol
B. kelebihan berat
C. merokok
D tekanan batin
5. Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sederhana.
Cara menyusunnya dibuat berderet dari atas ke bawah. Jika yang dideretkan terdiri dari satu kata, urutan ke bawah berdasarkan alfabet. Kalau yang dideretkan bilangan, urutan ke bawah berdasarkan bilangan yang makin bertambah besar atau makin menurun, atau diurutkan berdasarkan panjang kalimat.
6. Hindari penggunaan kata-kata teknis atau ilmiah atau istilah yang aneh atau mentereng
Perlu diingat bahwa tes yang dikembangkan bertujuan untuk mengukur materi pelajaran. Oleh karena itu, janganlah menggunakan istilah yang terlalu teknis atau istilah yang aneh.
Contoh: Apakah kritik utama ahli psikologi terhadap tes?
A. Tes menimbulkan rasa cemas
B. Tes sangat tergantung pada nilai budaya tertentu
C. Tes mengukur hasil belajar yang tidak penting
D Tes sangat ditentukan oleh pengetahuan guru
7. Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar.
Homogen dapat dilihat dari panjang pendek kalimat dan isi. Semua pilihan jawaban harus memiliki kemungkinan sebagai jawaban yang benar, sehingga siswa harus membaca semua pilihan dan menentukan yang paling tepat. Hindari pengecoh yang tidak ada sangkutannya dengan pokok soal atau pengecoh tersebut adalah jawaban yang tidak masuk akal.
Contoh: Siapakah di antara nama-nama ini yang menemukan telepon ?
A. Bell
B. Faraday
C. Morse
D Edison
8. Hindari keadaan dimana jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah.
Ada kecenderungan siswa memilih jawaban yang lebih panjang dan yang lebih rinci sebagai jawaban yang benar. Oleh karena itu, penulis soal hendaknya berusaha agar pengecoh dan jawaban yang benar ditulis sama panjang dan sama rincinya.
Contoh: Gejala fotomekanik retinomotor terjadi pada ….
A. Serangga yang mempunyai mata tunggal
B. Serangga yang mempunyai mata majemuk yang bersifat sebagai mata oposisi
C. Serangga yang mempunyai mata majemuk yang bersifat sebagai mata superposisi
D Semua serangga yang mempunyai mata bertangkai
9. Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar.
Dalam contoh ini A jawaban yang benar, ada petunjuk bahwa A lain dari 3 pilihan berikutnya (pilihan B, C, dan D termasuk logam, sedangkan A bukan logam).
10. Hindari menggunakan pilihan yang berbunyi ‘semua yang diatas benar’ atau ‘tidak satupun yang diatas benar’.
Adanya pilihan semacam ini sebenarnya mengurangi jumlah alternatif pilihan, karena kalau siswa sudah mengenal satu atau dua di antara empat pilihan, sebagai jawaban ketiga siswa akan memilih ‘semua yang di atas benar. Hal yang sama berlaku untuk ‘tidak satupun yang di atas benar’.
11. Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan.
Kalau hanya ada dua pilihan, bentuk ini sama dengan bentuk Salah-Benar. Dua pilihan berarti tebakannya tinggi, sedangkan kalau lima pilihan berarti faktor tebakan menurun yaitu 20%. Banyaknya pilihan yang disediakan sangat ditentukan oleh usia peserta tes, dan juga tergantung pada sifat materi yang disajikan
12. Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bermakna tidak tentu, misalnya kebanyakan, seringkali, kadang-kadang, pada umumnya, dan yang sejenisnya
Contoh: Berudu bernafas dengan….
A. insang
B. kulit
C. paru-paru
D insang dan paru-paru
13. Penulisan pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif. Jika terpaksa menggunakan pernyataan negatif, maka kata negatif tersebut digarisbawahi atau ditulis tebal.
Contoh: Pada semua tumbuhan yang berhijau daun, fotosintesis akan terjadi bila terdapat….
A. udara, tanah, dan air
B. cahaya, udara, dan air
C. tanah, cahaya, dan udara
D air, tanah, dan cahaya
Posted by MYTULISAN On 08.17 No comments READ FULL POST
KURIKULUM 2006 Mata Pelajaran IPS di jenjang SMP secara legal formal ditetapkan dengan menggunakan model pembelajaran IPS Terpadu. Pengertian terpadu bukan semata-mata sudah tidak muncul lagi Sub Mata Pelajaran Sejarah, Geografi dan Ekonomi, namun program pembelajarannya harus disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun sosial dengan memadukan kompetansi dasar yang ada.
Permasalahan yang muncul adalah Kompetensai Dasar (KD) dalam Kurikulum Mata Pelajaran IPS belum terstruktur secara terpadu. Walaupun Sub Mata Pelajaran sudah tidak dikenal lagi, namun KD-KD dalam standar isi tersebut masih menunjukkan secara eksplisit substansi dari masing-masing sub mata pelajaran. Dampaknya dalam mengajar guru cenderung mengikuti kurikulum berdasarkan urutan yang ada. Bahkan masih sering ditemukan guru yang mengajar IPS Ekonomi, IPS Sejarah atau IPS Geografi secara terpisah-pisah.

Model IPS Terpadu
Ada tiga model pembelajaran IPS terpadu. Pertama, model integrasi berdasarkan topik. Caranya dengan memilih atau menetapkan topik tertentu, dan topik tersebut ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS, misalnya topik flu burung. Persebaran wabah flu burung dan karakteristik fisis-geografis daerah terjangkit dikaji melalui disiplin Ilmu Geografi, dampaknya terhadap kegiatan perekonomian masyarakat ditinjau dengan disiplin Ilmu Ekonomi. Analisis proses awal masuknya flu burung di Indonesia dapat dikaji dengan disiplin Ilmu Sejarah, sedangkan bagaimana reaksi masyarakat yang mengahadapi wabah flu burung dan bagaimana partisipasi yang diberikan dalam upaya penanggulangannya dapat dikaji dengan disiplin Ilmu Sosiologi.
Kedua, model integrasi berdasarkan potensi utama. Dipilih tema yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat. Misalnya Ungaran sebagai kawasan industri. Faktor alam apa yang menunjang pengembangan industri di Ungaran dianalisis dengan disiplin Ilmu Geografi. Bagaimana dukungan/kebijakan pemerintah daerah dikaji dengan Ilmu Politik, seberapa besar ketersediaan tenaga kerja dan efek perekonomian yang muncul dilihat dengan kacamata Ekonomi. Sedangkan bagaimana kemungkinan dampaknya terhadap kehidupan sosial-budaya dianalisis dengan disiplin Ilmu Sosiologi-Antropologi.
Ketiga, model integrasi berdasarkan masalah. Banyak sekali dijumpai permasalahan lingkungan dan sosial di sekitar anak. Jika permasalahan tersebut diangkat menjadi tema dalam pembelajaran di kelas sangat menarik dan meningkatkan kepedulian siswa terhadap masalah tersebut, misalnya pornografi. Apa faktor sosial-budaya yang mendorong maraknya pornografi tentu dapat dikaji dengan bantuan disiplin Ilmu Sosiologi-Antropologi. Sampai di mana saja persebaran masalah tersebut, kapan masalah tersebut mulai muncul dan bagaimana perkembangannya, apa dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi, dan apa kebijakan yang telah dilakukan pemerintah ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menggunakan disiplin ilmu sosial yang sesuai.
Pembelajaran IPS Terpadu merupakan gabungan dari berbagai disiplin ilmu sosial. Di sekolah, guru yang tersedia umumnya merupakan guru dengan disiplin ilmu yang terpisah-pisah. Hal ini tentunya mengundang masalah bagi guru untuk beradaptasi dalam pengintegrasian disiplin ilmu sosial tersebut. Solusi yang dapat diberikan adalah mengajar dengan Team Teaching yaitu dua-tiga orang guru mengajar secara bersama-sama di dalam kelas. Setiap guru memiliki tugas sesuai dengan keahlian dan kesepakatan team.
Pembelajaran IPS Terpadu bagi siswa memberikan peluang untuk pengembangan kreativitasnya. Model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik, asosiatif serta eksploratif dan elaboratif. Dengan mengupas permasalahan sosial yang ada di lingkungan siswa akan mempermudah dan memotivasi untuk mengenal, menerima, menyerap dan memahami keterkaitan konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang dikehendaki oleh kurikulum.

Pardigma Sosial Studi
Dalam IPS Terpadu tersurat adanya perubahan paradigma dari Ilmu Sosial (Social Sciences) menjadi Studi Sosial (Social Study). Ilmu-ilmu Sosial (Sosiologi, Antropogi, Ekonomi, Politik, dll) lebih menekankan konsep dan teori yang abstrak dan rumit sehingga kemampuan anak di jenjang pendidikan dasar (SMP) belum cukup untuk menyerap dan memahaminya. Sedangkan studi sosial merupakan bidang pelajaran mengenai kehidupan manusia dalam masyarakat. Studi sosial lebih bersifat praktis, tidak menyajikan materi yang terlalu abstrak dan teoritis tetapi lebih bersifat terapan. Studi sosial lebih menitikberatkan pada bahan-bahan pelajaran yang langsung menyangkut kepentingan siswa dalam rangka proses belajar mengajar guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan
Guru harus bisa mengikuti perubahan paradigma ini, sebab perubahan ini memberikan ruang untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengajar. Guru tidak harus tunduk pada urutan KD dalam kurikulum. Ia dapat menetapkan topik atau permasalahan tertentu dan mengambil KD-KD yang dibutuhkan untuk disajikan di dalam pendekatan pembelajaran kooperatif. Guru dapat mengambil topik permasalahan yang sedang aktual misalnya naiknya harga-harga, golput, sampah, pornografi dan sebagainya. Upaya yang harus dilakukan guru IPS memang tidak mudah. Tetapi percayalah, hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru, melainkan karena masih ragu mencoba dan belum terbiasa melakukannya. Selamat mencoba
*Oleh :
Sarbun Hadi Sugiarto
Guru SMA 1 Salatiga
Jalan Progo 26, Sidomulyo, Ungaran Timur
sumber (www.radarsemarang.com)/edisi 4 september 2008
Posted by MYTULISAN On 08.10 No comments READ FULL POST
Mengapa guru perlu mengetahui dan menggunakan media dalam pembelajaran? Curzon (1985) menyatakan sebagai berikut:
The object of using audio visual material in the classroom in the communication of information incidental to the total teaching process. Selected and used skillfully the aid in the right time, the right place, and the right manner – audio visual aids (AVA) can multiply and widen the channels of communication between teacher and class.
Pernyataan Curzon cukup jelas kiranya dapat mencirikan pentingnya penggunaan media dalam bentuk AVA untuk pengajaran secara umum, bahwa penggunaan AVA dapat memperluas saluran komunikasi antara guru dan siswa. Maksudnya apabila Anda mengajar dengan tidak menggunakan AVA seperti ketika menjelaskan materi pelajaran atau ketika memberi latihan, berarti Anda hanya menggunakan mulut untuk berkomunikasi atau disebut juga komunikasi verbal. Apabila Anda menggunakan media seperti tape, gambar, dll. dalam mengajar, maka Anda menggunakan lebih dari satu saluran komunikasi. Anda tidak hanya memberikan stimulus secara verbal saja, tetapi Anda juga menggunakan stimulus melalui saluran aural dan visual. Semakin banyak kita menggunakan saluran komunikasi ketika mengajar, semakin banyak informasi yang dapat diserap siswa, serta tentunya semakin efektif pengajaran kita.
Selanjutnya, Curzon menyampaikan maksud utama dari penggunaan media sebagai berikut :
A class acquires knowledge and skills as the results of assimilation of responses elicited by those stimuli which create sensory impressions. The concept of teaching which is based on the teacher relying solely on his voice and personality steems from the belief that communication is best achieved through the medium of sound. The use of AVA (media) in a lesson is based on the consideration of communication as related to all the senses of the talk of the teacher in providing the appropriate stimuli for desired responses can be facilitated by him to engage the students’ senses of hearing, seeing, touching, etc.
Dari penuturan Curzon, kita dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan asimilasi atau gabungan dari respon-respon yang dirangsang oleh stimulus-stimulus yang menciptakan suatu kesan sensoris pada diri siswa. Sebagai contoh, ketika Anda mengajar reading, Anda menemukan satu hal yang sangat sulit dijelaskan secara verbal dari teks kepada siswa. Kemudian, Anda menggunakan alat bantu visual berupa gambar. Dalam hal ini, selain Anda menggunakan saluran komunikasi verbal, Anda juga menggunakan saluran komunikasi lain yaitu visual. Siswa akan lebih dapat memahami pelajaran dengan bantuan visual berupa gambar selain penjelasan guru.
Pentingnya media juga dapat dilihat dari aspek kehidupan siswa. Suatu kenyataan bahwa siswa mendapatkan pengalaman yang lebih luas dan bervariasi dibanding orangtua mereka ketika masih muda. Sehingga cukup beralasan kiranya apabila sekolah memberikan siswa pengalaman sebanyak mungkin dan variatif. Untuk mencapai hal ini, sekolah harus menggunakan sebanyak mungkin media yang dapat menyajikan berbagai pengalaman kepada siswa. Moller (1974) dalam hal ini menyatakan:
Life divides two kinds of reality: that imposed by the school; and the real, living world outside. The new media can help us a lot in our task of: unifying the two realities; indeed they are indipensable if we want to succeed in giving children a stimulating environment in which they can learn.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa media instruksional sangat bermanfaat untuk membangkitkan motivasi siswa dalam belajar karena media menyajikan banyak pengalaman yang menarik, bahkan pengalaman akan dunia di luar sekolah. Walaupun demikian, hasil yang didapat sangat dipengaruhi oleh penggunaan media dengan benar, tepat, dan terseleksi.
Banyak guru tidak memanfaatkan media audio-visual karena dianggap mahal atau tidak tahu cara pemanfaatannya dalam pembelajaran. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” memang terjadi dalam pemanfaatan media. Banyak guru tidak bisa karena tidak diajari atau tidak mau belajar sendiri untuk menggunakannya, serta tidak mau mencoba. Suatu sikap yang harus diterapkan di kalangan guru adalah mencoba belajar menggunakannya. Guru akan langsung merasakan manfaatnya setelah mencoba.
Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual. Dalam pembelajaran klasikal, media menjadi bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Melalui penggunaan media, siswa dapat terlibat langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Misalnya, penggunaan media realia atau benda nyata akan memberikan pengalaman belajar (learning experiences) yang sesungguhnya kepada siswa. Siswa dapat menyentuh dan mengobservasi benda tersebut dan memperoleh informasi yang diperlukan. Dalam mata pelajaran biologi, contoh benda nyata adalah flora dan fauna yang dapat diobservasi secara langsung oleh siswa.
Karakteristik Media Pembelajaran
Selain tahu pentingnya penggunaan media pembelajaran, Anda juga harus mengetahui karakteristik setiap media, potensi apa yang dimilikinya, apa kelebihan dan apa kekurangannya. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan media tertentu dalam pembelajaran. Setelah mengetahui karakteristik berbagai media, kita dapat menyeleksi media mana yang cocok untuk digunakan pada proses belajar mengajar tertentu. Dalam hal pentingnya mengetahui karakteristik (properti) media, Kemp (1985) menyatakan:
This properties of media help to indicate why they are used and what they can accomplish that teachers alone can not accomplish (or can accomplish less efficiently). The properties affect the ways in which each medium is used.
Terdapat tiga karakteristik media secara umum menurut Kemp (1985) yaitu: fixative, manipulative, dan distributive. Fixative property mengacu pada kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Contoh media ini adalah: pita kaset audio dan video, sekarang ditambah dengan cd, vcd, dan dvd. Alat rekam dan putarnya adalah tape recorder, kamera, video player, cd/vcd/dvd player, televisi dan komputer.
Manipulative property adalah kemampuan media untuk mentransformasi obyek atau peristiwa dengan berbagai cara. Kemampuan ini dimiliki media seperti: kamera yang dapat memperbesar/memperkecil obyek; mempercepat proses, contohnya proses membukanya kelopak bunga. Dalam PBM tentang geografi, guru dapat memanfaatkan misalnya video sebuah gunung berapi yang tidak mungkin dilihat dari jarak dekat. Kemampuan manipulatif sekarang sudah sangat maju dengan bantuan komputer. Kita tidak perlu kemana-mana mencari bahan, segala bahan yang diperlukan dapat ditemukan di komputer serta dimanipulasi di komputer pula.
Distributive property adalah kemampuan media untuk menyebarkan informasi melalui udara, sehingga peristiwa yang terjadi di tempat yang berjauhan dapat ditayangkan secara simultan. Contoh untuk ini adalah siaran tutorial udara Universitas Terbuka yang dipersiapkan sebelumnya di Studio UT kemudian disiarkan ke seluruh Indonesia melalui RRI.
E. Pemilihan Media Untuk Pembelajaran
Setelah Anda mengetahui pentingnya media untuk pembelajaran, tugas Anda selanjutnya adalah memilih media yang paling baik dan paling cocok untuk suatu kegiatan pembelajaran. Sebelum Anda menentukan media apa yang akan Anda pilih atau terapkan dalam pembelajaran, ada baiknya Anda perhatikan saran-saran yang disampaikan oleh Curzon (1985). Menurut Curzon ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dapat dipertimbangkan sebelum Anda menentukan suatu media, yaitu sebagai berikut:
Apakah tujuan instruksional yang ingin saya capai benar-benar membutuhkan pemanfaatan alat bantu audio-visual ?
Karakteristik media yang bagaimana yang akan membantu saya dalam mencapai tujuan instruksional?
Respon apa yang ingin saya peroleh dari penggunaan media, misal; ingatan, pemahaman, atau konsolidasi?
Bagaimana respon siswa/kelas terhadap penggunaan media?
Bagaimana saya mengevaluasi keefektifan media yang dipergunakan?
Sekarang mari kita bahas satu per satu pertanyaan-pertanyaan di atas agar Anda paham benar apa yang harus Anda lakukan dalam memilih suatu media. Suatu keharusan bahwa ketika Anda mengajar, Anda telah memiliki tujuan instruksional yang harus dicapai siswa Anda. Biasanya, tujuan instruksional menyatakan suatu perubahan perilaku. Oleh karenanya dalam pemilihan media, Anda harus memperhatikan kesesuaian media dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebagai contoh dalam pelajaran listening comprehension, tujuan instrusionalnya adalah siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi wacana bahasa Inggris yang dibacakan oleh seorang native speaker. Media yang Anda pilih haruslah media yang dapat memfasilitasi siswa untuk melakukan latihan mendengarkan suatu teks yang dibacakan oleh native speaker, yaitu sebuah tape recorder dan kaset yang berisi rekaman suara seorang native speaker yang sedang membaca suatu teks. Tanpa menggunakan media ini, tujuan instruksional akan sulit dicapai.
Pertanyaan kedua membuat Anda harus memikirkan karakteristik suatu media yang akan membantu Anda dalam mencapai tujuan instruksional. Misalnya kita ambil contoh di atas, karena Anda memerlukan rekaman suara seorang native speaker, maka media yang akan dipergunakan haruslah memiliki karakteristik “fixative” property yaitu kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Media yang memiliki karakteristik seperti ini adalah tape recorder atau cd player.
Pertanyaan ketiga mengharuskan Anda untuk mempertimbangkan respon yang dirangsang stimulus atau dibangkitkan oleh suatu media yang Anda pilih. Dalam pelajaran listening comprehension di atas, respon yang diinginkan adalah pemahaman isi suatu teks yang dibacakan oleh seorang native speaker. Pemahaman dicirikan dengan kemampuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi teks/wacana setelah menyimak dengan seksama kaset/cd berisi bacaan yang diputarmainkan oleh tape-recorder atau cd-player.
Pertanyaan keempat membuat Anda harus mempertimbangkan respon siswa terhadap penggunaan suatu media. Apakah dengan penggunaan media tersebut siswa menyambut dengan antusias ataukah malah menjadikan siswa lebih banyak mengalami kesulitan. Apakah siswa tertarik dengan pelajarannya? Apakah mereka akan dapat mencapai tujuan instruksional dengan lebih efektif dengan media tersebut? Semuanya ini bergantung pada media yang Anda pilih, karenanya, pilihlah media yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan/level siswa, dan pastikan bahwa media tersebut dalam kondisi yang baik. Sebagai contoh, jika materi pelajaran terlalu sukar untuk siswa, jika peralatan (dalam contoh di atas adalah tape recorder) rusak atau tidak menghasilkan suara yang baik, maka media tersebut jangan dipakai.
Pertanyaan kelima adalah hal terakhir yang perlu Anda pertimbangkan yaitu bagaimana mengevaluasi keefektifan media yang kita pergunakan. Hal ini mudah kita lakukan dengan mengecek pemahaman siswa terhadap materi setelah Anda mengajar. Selain itu, Anda juga dapat melakukan evaluasi selagi proses belajar mengajar berjalan, dengan mengamati pencapaian dan prilaku siswa, apakah mereka tertarik atau menunjukan antusiasme ketika merespon media yang dipergunakan.
Kelima pertanyan tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum menentukan media yang akan dipergunakan.
Sementara itu Kemp (1985) menunjukan beberapa faktor yang perlu dipertimbang dalam memilih suatu media untuk pembelajaran sebagai berikut:
Appropriateness/Kesesuaian. Media yang dipergunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika Anda ingin siswa Anda dapat membaca iklan tentang lowongan kerja, media yang sesuai adalah koran.
Level of Sophistification. Ini mengacu pada kesesuaian media dengan tingkat kemampuan/level siswa. Sebagai contoh: ketika membeli kaset di toko, Anda mungkin mendapat hasil rekaman yang baik dengan suara yang jelas; tetapi ternyata kaset tersebut isinya terlalu sulit dipahami oleh siswa Anda. Jadi pemilihan kaset tersebut tidak memenuhi persaratan level yang siswa dan Anda perlukan. Untuk menghindari kejadian seperti ini Anda harus mengevaluasi tingkat sophistification materi kaset tersebut, yaitu kosakatanya, kecepatan penyajiannya (cepat/lambat), tingkat kompleksitas struktur kalimatnya, dan sebagainya sehingga isi materi sesuai dengan tingkat kemampuan/level siswa.
Cost/Biaya. Anda harus mempertimbangkan apakah media yang ingin Anda pergunakan membutuhkan biaya dapat dijangkau oleh Anda sendiri atau sekolah. Meskipun peralatan tersebut kemudian dibeli oleh sekolah, apakah biaya tersebut sebanding dengan keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran dengan media tersebut. Tetapi, Anda tentunya tidak akan menyerah dengan situasi tersebut.
Availibility/Ketersediaan. Faktor keempat ini adalah tentang apakah media tersebut tersedia. Bila tiak, tentunya Anda akan mencari alternatif-alternatif lain.
Technical Quality/Kualitas Teknis Peralatan. Faktor kualitas teknis mengacu pada suatu kenyataan bahwa ketika Anda memilih suatu media, media yang dipilih tersebut haruslah berkualitas baik. Suara yang tidak jelas dari rekaman yang tidak berkualitas hanya akan menghancurkan efektifitas media yang digunakan yang sebelumnya diharapkan dapat menyajikan banyak stimuli.
Dari penuturan kedua ahli media pembelajaran tersebut di atas, kiranya kita mendapat gambaran yang lebih luas tentang faktor apa saja yang harus kita pertimbangkan ketika kita akan memilih suatu media yang akan kita pakai untuk membantu proses pembelajaran siswa dalam upaya mencapai tujuan instruksional secara optimal.
Posted by MYTULISAN On 07.47 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
All-Published

    Blogger news

    Free Music Online
    Free Music Online

    free music at divine-music.info

    Blogroll

    About